Naufal Faris Hermanto Raih Emas Kedua di Wufest Taolu Championship 2019

Pewushu cilik Naufal Faris Hermanto kembali tampil prima saat berlaga di nomor Jianshu (pedang) kategori C (10 12 tahun), pada hari kedua Wufest Taolu Championship 2019 di Wisma Serba Guna Gelora Bung Karno Jakarta, Sabtu (21/12/2019). Naufal berhasil menyabet medali emas setelah menorehkan nilai tertinggi 8.24, sedangkan Medali perak diraih Jeffersen Chen (Rajawali Sakti Jakarta) dengan nilai8.19. Sementara medali perunggu jatuh ke tangan Bernard Gregory Susilo (Rajawali Sakti Jakarta) dengan nilai 8.18. Ini merupakan medali emas kedua bagi Naufal. Sebelumnya pewushu dari perguruan wushu Inti Bayangan DKI Jakarta ini juga tampil mengesankan dan merebut medali emas dari nomor Qiangshu (tombak) pada lomba hari pertama, Jumat (20/12/2019).

Perjalanan karir bocah yang mengagumi Lindswell Kwok, Achmad Hulaefi dan Edgar Xavier Marvelo ini tergolong unik. Karena awal perkenalannya dengan wushu terjadi lantaran dia sering nonton sinteron berjudul 'Jagoan Wushu' yang ditayangkan secara serial di salah satu televisi swasta. "Sebelumnya tidak tahu apa itu wushu. Tetapi suatu hari saya nonton sinetron yang judulnya Jagoan Wushu di salah satu televisi swasta. Saya langsung senang dengan wushu karena saya lihat jurus jurusnya indah dan mudah dipelajari," ungkap siswa kelas 6 Sekolah Dasar Joglo 05 Pagi Jakarta ini mengenang kisah perkenalannya dengan wushu. Tertarik ingin mendalami wushu bocah kelahiran 11 Januari 2008 di Jakarta inipun bergabung dengan Perguruan Inti Bayangan yang bermarkas di salah satu area Gelora Bung Karno Jakarta.

Di bawah bimbingan mantan pewushu nasional, Achmad Hulaefi, Naufal yang ketika itu masih berusia 6 tahun mulai tekun berlatih. Berkat ketekunan dan kegigihannya dalam berlatih, ditambah dukungan penuh dari ayahnya Dwi Hermanto dan ibunya Sri Wahyuni, kepiawaiannya dalam menguasai beragam jurus yang ada di nomor taolu terus meningkat. "Sekarang saya sudah ban hijau strip satu," tutur putra sulung dari tiga bersaudara ini.

Seperti anak anak lainnya yang cenderung moody dan mudah bosan pada satu hal, Naufal pun sempat dihinggapi rasa jenuh dengan rutinitas berlatih wushu. Bahkan dia sempat tergoda untuk meninggalkan Wushu dan beralih ke bulutangkis. "Ya, karena muncul rasa jenuh saya sempat mau meninggalkan wushu. Mau beralih ke bulutangkis karena kelihatannya lebih seru. Tetapi tidak jadi. Saya malah makin mantap untuk menekuni wushu. Bertekad harus bisa mengikuti jejak Om Hulaefi, Tante Lindswell dan Kakak Edgar. Bisa mengharumkan nama Indonesia di pentas wushu dunia. Pokoknya sudah mantap ingin jadi atlet Wushu," ungkap Naufal.

Tekad Naufal untuk menjadi atlet wushu mendapat dukungan penuh dari ayahnya Dwi Hermanto dan ibunya Sri Wahyuni. Bagi Dwi sepanjang kegiatan yang dilakukan sang anak positif dan bermanfaat untuk masa depannya, dia dan sang istri akan terus mendukung. "Saya tidak pernah mengarahkan Naufal untuk belajar wushu. Itu kemauan dia. Terus terang sebelumnya saya juga tidak tahu apa itu wushu. Tetapi setelah saya pelajari ternyata wushu sangat baik baik untuk kesehatan dan ilmu beladiri bagi anak. Intinya sangat positif. Karena itu saya dan istri sangat mendukung keinginan Naufal untuk menjadi atlet wushu. Pilihan Naufal positif. Kewajiban bagi orang tua untuk mendukung anak. Untuk masa depannya. Semoga kelak Naufal dapat menjadi atlet yang membanggakan Indonesia," papar Dwi Hermanto yang setia mendampingi putra sulungnya sejak hari pertama Wufest Championship 2019. 2015 Kejuaraan Wushu Antar Perguruan 2016 Kejuaraan Wushu Piala Walikota Jakarta Selatan 2016 Kejuaraan Wushu Piala Walikota Surabaya 2018 Kejurnas Wushu Junior di Yogyakarta (masuk 10 besar) 2018 Kejurnas Wushu Junior di Bangka Belitung (masuk 4 besar nomor Jianshu C

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *